BREAKING NEWS

IKLAN

IKLAN

Monday, 12 June 2017

7 Mitos soal Kanker Serviks yang Belum Banyak Orang Tahu!

 
KANKER serviks menjadi ancaman serius bagi perempuan di dunia. Kasus ini menyerang 13.000 perempuan Amerika Serikat setiap tahunnya. Sebagian besar dari mereka berusia 30 sampai 54, dengan usia rata-rata penderita adalah 48 tahun. Deteksi dini sudah bisa dilakukan untuk penyakit ini, maka dari itu, tingkat kelangsungan hidup penderita adalah 91 persen.

Kasus yang dialami Julia Perez juga harusnya menjadi contoh serius untuk setiap orang dalam menjaga kesehatan dan kebersihan alat kelaminnya. Pencegahan dini sudah seharusnya dilakukan agar Anda terhindar dari penyakit tersebut.

Namun, dilansir dari okzone, Minggu (11/6/2017) ada beberapa hal yang perlu penderita maupun masyarakat umum ketahui tentang kesalahpahaman mengenai penyakit ini. Berikut beberapa di antaranya

HPV menjadi penyebab utama kanker serviks

Pada kenyataannya, tidak semua jenis HPV (Human Papillomavirus) terkait dengan kanker serviks. HPV mengacu pada sekelompok lebih dari 100 virus yang secara koelktif membentuk infeksi menular seksual yang paling sering terjadi. Namun, ada HPV yang memang berisiko menciptakan kanker serviks, yaitu HPV 16 dan 18. Sedangkan HPV 6 dan 11 menyebabkan genital warts, yang jarang berkembang menjadi kanker.

Kanker serviks tidak dapat dicegah

Saat ini, pencegahan dini kanker serviks sudah bisa dilakukan. Kanker serviks dimulai pada sel pra-kanker yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun untuk berkembang menjadi kanker. Tes Pap atau pap smear adalah skrining yang dapat mendeteksi sel pra-kanker tersebut.

Tak hanya itu, tes HPV juga sudah bisa dilakukan jauh hari. Dengan tes itu, Anda bisa mengidentifikasi strain virus yang menempatkan perempuan pada risiko paling tinggi terkena kanker serviks. Jika positif ada HPV dalam tubuh, Anda harus melakukan tes ulang dalam setahun untuk mengetahui apakah virus telah sembuh atau belum.

Tes Pap Smear dilakukan setiap tahun

Penelitian saat ini telah menemukan, tes pap tahunan tidak perlu lagi dilakukan. CDC dan American Cancer Society merekomendasikan tes pap smear dilakukan tiga tahun sekali untuk perempuan berusia 21 tahun atau lebih tua. Tes yang terlalu sering juga mungkin membawa efek yang tidak diinginkan dan biaya tambahan yang tentunya tidak sedikit.

Tes Pap Smear sama dengan pemeriksaan panggul

Tes pap berbeda dengan pemeriksaan panggul, yaitu pemeriksaan fisik panggul, vagina, dan dasar panggul. Sedangkan tes pap meliputi pemeriksaan panggul, payudara, dan fisik secara keseluruhan.

HPV bisa diobati

Pada kenyataannya, tidak ada perawatan untuk HPV. Namun, sistem kekebalan tubuh yang baik bisa mengatasi infeksi HPV genital dalam dua tahun. Penyedia layanan kesehatan tidak dapat mengobati HPV, tapi mereka bisa menangkap dan merawat sel pra-kanker yang disebabkan HPV sehingga kanker bisa diminimalkan.

Kanker Serviks menunjukkan gejala langsung

Pra kanker awal dan kanker serviks biasanya tidak menghasilkan gejala yang bisa langsung Anda rasakan. Namun, saat kanker serviks yang telah menyebar dan mencapai stadium lanjut, akan mengeluarkan gejala seperti keluarnya darah dari vagina yang abnormal; sakit saat berhubungan seks; nyeri di punggung, kaki, atau panggul; kaki tunggal bengkak; penurunan berat badan atau kehilangan nafsu makan; kelelahan yang parah.

Jika Anda telah menjalani histerektomi, Anda tidak bisa terkena kanker serviks

Jika Anda pernah menjalani pemeriksaan histerektomi, Anda harus tetap skrining untuk kanker serviks. Namun, jika Anda sudah menjalani histerektomi total selama pengangkatan serviks dan rahim, Anda harus berhenti terkena pap smear dan tes HPV.
 
Copyright © 2013 News
Distributed By Orange News Peaper